Google+ Badge

Senin, 24 Juni 2013

Struktral Fungsional (di institusi keluarga), ada beberapa pengertian struktural fungsional, pengertian keluarga, tokoh struktural fungsional, asumsi dan aplikasinya dalam instituis keluarga (Psikologi Motivasiku)




STRUKTURAL FUNGSIONAL 
DI INSTITUSI KELUARGA


Psikologi Keluarga

Dosen pengampu: Dr. Casmini S.Ag. M. Si






  
Di susun oleh:
Yogi Abdul Aziz (11220124)

Prodi Bimbingan Konseling Islam
Fakultas Dakwah dan Komunikasi
Universitas Islam Negeri
Suanan Kalijaga
Yogyakarta
2012/2013





BAB I
PENDAHULUAN
Allah SWT dalam menciptakan sesuatu tentulah dengan berpasang-pasangan, seperti halnya ada malam ada siang, ada pagi ada juga sore, begitupun ketika Allah menciptakan Adam dengan pasangannya yaitu Siti Hawa. Dari semua pasangan itu tentulah ada tujuan serta maksud tertentu, yang nantinya akan membentuk sebuah institusi keluarga kemudian melahirkan masyarakat yang berbudaya.
Didalam institusi kehidupan keluarga tentunya mempunyai struktur serta fungsinya masing-masing, namun setiap institusi keluarga mempunyai struktur dan fungsinya masing-masing dalam menjalankan hidupnya, akan tetapi untuk menentukan keluarga itu baik atau tidaknya bisa dilihat dari lingkungan yang disebut budaya.
Pada dasarnya manusia itu sendiri  tidak hidup dalam keadaan yang statis, namun selalu berubah-ubah sesuai denga perkembangan jaman. Manusia diciptakan oleh Allah SWT merupakan mahluk sosial. Sebagai mahluk sosial manusia perlu hidup, bekerja dan bersosialisasi dengan sesamanya. Salah satu bentuk kelompok sosial yang paling universal adalah institusi keluarga.
Didalam struktural fungsional institusi keluarga mempunyai warna yang jelas, yaitu mengakui adanya segala keragaman dalam kehidupan sosial. Dan keragaman ini merupakan sumber utama dari adanya struktur masyarakat.









BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Keluarga
Tujuan hidup manusia dimuka bumi selain mengabdi kepada Tuhannya ia juga mempunyai tujuan yang dinamakan institusi keluarga sebagai akhir dari masa hidupnya, karena dengan berkeluarga ini manusia akan mampu melestarikan generasi hidupnya. Dalam struktur keluarga mempunyai urutan ataupun struktur yang runtut seperti halnya dalam institusi Negara ada pemimin, wakil dan ada juga yang dipimpin, begitupun dalam institusi keluarga adanya suami sebagai pemimpin, istri sebagai wakil, dan anak sebagai  yang dipimpin.
Adapun pengertian keluarga itu sendiri adalah sebuah rumah tangga yang didalamnya memiliki hubungan darah atau perkawinan ataupun menyediakan terselenggaranya fungsi-fungsi instrumental mendasar dan fungsi-fungsi ekpresi keluarga bagi para anggotanya yang berada pada satu struktur, serta mempunyai visi misi yang sama. (Sri Lestar. 2012, hal 6). Keluarga merupakan kelompok primer yang terpenting dalam sebuah masyarakat. Secara historis keluarga merupakan organisasi terbatas, yang pada awalnya mengadakan ikatan. Dengan kata lain keluarga disini merupakan bagian dari masyarakat yang didalamya terdapat berbagai budaya. (Khairuddin. 1985, hal 10).

B.     Pengertian Struktural Fungsional
Sebelum lebih jauh membahas tentang struktural fungsional akan lebih baiknya lagi jika diawali dengan sebuah pengertian apa itu struktur dan apa itu fungsional, dengan diawali pengertian ini diharapkan akan leih mudah dalam memahami struktural fungsional.
Struktural jika didefinisikan berdasarkan kehadiran atau ketidak hadiaran anggota keluarga, seperti kedua orang tua, anak laki-laki maupun perempuan, dan sebagainya. Pada definisi ini memfokuskan kepada siapa yang akan menjadi bagian dari keluarga, sehingga dapat muncul keluarga sebagai asal usul (families of origin), keluarga sebagai wahana melahirkan keturunan (families of procreation), dan keluarga batih (extended family), sedangkan fungsional didefinisikan pada terpenuhinya tugas-tugas dan fungsi-fungsi psikososial. Seperti sosialisasi pada anak, dukungan emosi dan materi dan pemenuhan peran-peran tertentu, dalam artian definisi ini memfokuskan pada tugas-tugas yang dilakukan oleh keluarga (Sri Lestar. 2012, hal 5).
Keluarga mempunyai fungsi yang poko yang diantaranya yaitu: fungsi biologik, fungsi afeksi, dan fungsi sosialisasi.
a.       Fungsi biologik
Dalam fungsi ini merupakan dasar kelangsugan hidup masyarakat atau keluarga, akan tetapi fungsi ini mengalami perubahan seperti membatasi dalam memiliki keturunan. Hal seperti ini dapat dipengaruhi diantaranya: berubahnya desa menjadi kota sehingga suasana dalam mencari temapt tinggal, dan salahsatunya yang menjadikan hambatan adanya tuntutan dari Negara maupun agama untuk membatasi keturunan.
b.      Fungsi afeksi
Hubungan ini bermuara dari cinta dan kasih yang menjadi dasar perkawinan, yang nantinya akan melahirkan hubungan persaudaraan, persahabatan, kebiasaan, identifikasi, persamaan pandangan mengenai nilai-nilai. Suasan afeksi seperti ini merupakan yang paling penting dalam sebuah tatanan kelaurga yang bermasyarakat.
c.       Fungsi sosialisasi
Fungsi ini menunjuk peranan keluarga dalam membentuk keperibadain anak. Dari interaksi sosial ini anak akan mempelajari tingakh laku, sikap, keyakinan, cinta-cita, dan nilai-nilai dalam masyarakat dalam rangka perkembangan keperibadiannya. (Khairuddin. 1985, hal 59-60).
(Megawangi, 2001) Mendefinisikan bahwa struktural-fungsional adalah pendekatan teori sosiogi yang diterapkan dalam institusi keluarga, baik keluarga kecil maupun keluarga besar. Keluarga sebagai sebuah institusi dalam masyarakat yang mempunyai prinsip-prinsip kehidupan sosial yang serupa. Masyarakat seperti ini biasanya mempunyai warna yang jelas, yaitu mengakui adanya segala keragaman dalam kehidupan sosial. Dan keragaman ini merupakan sumber utama dari adanya struktur masyarakat… (Herien Puspitawati, 2009 hal 1).
Struktural Fungsional adalah sudut pandang dalam sosiologi dan antropologi yang berupaya menafsirkan sebuah masyarakat sebagai sebuah struktur yang saling berinteraksi, terutama dalam norma, adat, tradisi dan institusi. Dalam arti paling mendasar, istilah ini menekankan "upaya untuk menghubungkan, sebisa mungkin, dengan setiap fitur, adat, atau praktik, dampaknya terhadap berfungsinya suatu sistem yang stabil dan kohesif". Bagi Talcott Parsons, bahwa "Structural Fungsional" bukanlah sebuah mazhab pemikiran, akan tetapi struktural fungsional ini adalah suatu tahap tertentu dalam pengembangan metodologis dibidang ilmu sosial. (http://id.wikipedia.orgwikiFungsionalisme_struktural).
Tentunya struktur keluarga dalam bermasyarakat tidak lepas dengan yang namanya akan kebutuhan hidup yang bermacam-macam, sehingga dari kebutuhan ini yang nantinya akan melahirkan saling tolong menolong serta hidup yang rukun dalam bermasyarakat. (J. Goode, Wiliam. (1995), hal 3). Teori fungsional melihat manusia dalam masyarakat ditandai oleh dua tipe kebutuhan dan dua jenis kecenderungan bertindak, diantaranya dalam  menjaga kelanjutna hidpunya manusia haru bertindak terhadap lingkungannya, baik dengan cara menyesuaikan pada lingkungan sekitar atau menguasai serta mengendalikannya, dan kebudayaan sebagai sarana survival manusia dan masyarakat… (Thomas F.O'dea. (1985), hal 6).
Sehingga dapat disimpulkan bahwa sturuktural fungsional adalah sebuah institusi keluarga yang didalamnya terdiri seorang pemimpin yaitu ayah, ibu sebagai wakil ayah, anak sebagai penerus dari ayah dan ibu, yang didalamnya mereka mengakui adanya sbuah keragaman dalam hidup, sehingga mereka dalam menjalankan hidupnya tentram dan aman.

C.    Tokoh Struktural Fungsional
Herien Puspitawati (2009). Membagi para ahli dibidang structural fungsional yang diantarany:
a.       Aguste Comte (1798-1857)
b.      Herbert Spencer (1820-1930)
c.       Emile Durkheim (1858-1917)
d.      Oswald Spengler (1880-1938)
e.       Bronislaw Malinowski (1884-1945)
f.       Alferd Reginald Radcliffe-Brown (1881-1955)
g.      Talcott Parsons (1902-1979)
h.      Robert Merton (1911-2003)
i.        Anthony Giddens (1938-sekarang)

D.    Asumsi Teori Struktural Fungsional
Pemikiran structural fungsional sangat dipengaruhi oleh pemikiran biologis yaitu menganggap masyarakat sebagai organisme biologis yaitu terdiri dari organ-organ yang saling ketergantungan, ketergantungan tersebut merupakan konsekuensi agar organisme tersebut tetap mampu bertahan hidup. Kemudian structural fungsional ini juga bertujuan untuk mencapai keteraturan sosial yang berangkat dari pemikiran Emile Durkheim, kemudian pemikiran Durkheim ini dipengaruhi oleh Auguste Comte dan Herbert Spencer … (http://id.wikipedia.orgwikiFungsionalisme_struktural), sehingga dari saling ketrgantungan ini masyarakat akan saling mempengaruhi dalam kehidupan sosail yang nantinya akan terbawa ke institusi keluarga.
Teori structural fungsional mengasumsikan bahwa keluarga merupakan sebuah sistem yang terdiri dari berbagai bagian atau subsistem yang saling berhubungan dengan masyarakat lain, yang berfungsi untuk menjaga kelangsungan hidup dari sistem sosial yang ada pada suatu tatanan masyarakat.
Adapun Herien Puspitawati. (2009), hal 20-21 membagikan asumsi structural fungsional dalam keluarga menjadi beberapa bagian yang diantaranya:
a.       Asumsi-asumsi yang mendasari teori struktural fungsional dari dimensi struktural adalah :
1.      Untuk melakukan fungsinya secara optimal, keluarga harus mempunyai struktur tertentu.
2.      Struktur adalah pengaturan peran da/am sistem sosial.
3.      Keluarga inti adalah struktur yang paling mampu memberikan kepuasan fisik dan psikologi anggotanya dan juga menjaga masyarakat yang lebih besar.
b.      Asumsi dimana karakteristik diterapkan pada keluarga adalah:
1.      Anggota keluarga membedakan atau mengkhususkan peran yang memungkinkan mereka meningkatkan kelaurga dan
2.      Sistem diorganisir, demikian pula dengan keluarga. Pola mengatur (struktur orang tua/anak) diantara anggota menentukan hak dan kewajiban (peran) dan serta nilai dan norma yang umum dianut (sosialisasi).
c.       Asumsi berdasarkan karakteristik sistem sosial yang diterapkan pada keluarga adalah:
1.      Sistem mempunyai batasan (boundaries). Keluarga mempunyai batasan yang lebih kaku diantara anggota keluarga dibandingkan sistem lainnya.
2.      Sistem mempunyai kecenderungan mengarah pada homeostasis atau keseimbangan dan
3.      Sistem adalah organik. Sistem terintegrasi sebagai satu kesatuan, diikat  secara bersama-sama oleh struktur, dengan setiap bagian mempunyai fungsi (tubuh yang berfungsi dengan baik adalah dalam kondisi seimbang).

E.     Aplikasi Teori Struktural Fungsional Dalam Institusi Keluarga
Talkott parsons memberikan gambaran bahwa diantara hubungan struktural-fungsional cenderung memiliki empat tekanan yang berbeda dan terorganisir secara  simbolis, yaitu adanya fungsi-fungsi tertentu yang harus dipenuhi oleh segolongan keluarga agar ada kelestarian sistem, diantaranya adaptasi, pencapaian tujuan, integrasi dan keadaan latent. (http://id.wikipedia.orgwikiTalcott_Parsons). Dari keepmpat persyaratan fungsional yang mendasar tersebut berlaku untuk semua sistem keluarga atau masyarakat yang ada.
Penerapan teori struktural fungsional dalam institusi keluarga dapat terlihat dari struktur dan aturan yang ditetapkan dalam institusi keluarga tersebut. Dijelaskan oleh Chapman (2000) dalam Puspitawati (2006). Keluarga adalah unit universal yang didalamnya memlilki peraturan, seperti peraturan untuk anak-anak agar dapat belajar untuk mandiri. Hal seperti ini tanpa adanya aturan atau fungsi yang dijalankan oleh unit keluarga, maka unit keluarga tersebut tidak memlliki arti (meaning) yang dapat menghasilkan suatu kebahagiaan. (Khairuddin. 1985, hal 23). Jika institusi keluarga tidak memiliki aturan dan fungsi yang dijalankan maka akan tumbuh benih-benih generasi penerus yang tidak mempunyai tujuan yang terarah, karena kehidupa kelaurga dalam lingkungan masyarakat tidak lepas dengan institusi kebudayaan.
Pada dasarnya keluarga yang harmoni itu mempunyai struktur yang jelas, karena pada dasarnya didalam institusi keluarga itu mempunyai strutktur yang jelas yaitu dengan adanya pembagian peran antara ayah, ibu, dan anak. Namun dala pembagian perannya berbeda-beda tergantung kepada kebijakan di masing-masing institusi keluarga itu sendiri. Karena pada dasarnya keluarga mempunyai tiga bentuk yakni keluarga batih: keluarga bercabang (stem family). Keluarga bercabang ini terjadai manakala seorang anak yang sudah menikah dan masih tinggal satu atap dengan orangtuanya. Bentuk kedua dari kelaurga batih adalah keluarga berumpun (lineal family). Bentuk keluarga seperti ini terjadi bila kedua anak yang sudah menikah kemudian masih satu atap dengan orang tua. Adapun bentuk ketiga dari keluarga batih adalah keluarga beranting (fully extended). Bentuk keluarga seperti ini bila manakala didalam satu atap keluarga terdapat  generasi ketiga (cucu) yang sudah menikah dan tetap tinggal dalam satu atap. (Sri Lestari. 2012, hl 7).
Khairuddin. (1985). Dalam pengalikasian institusi keluarga dibagi menjadi beberapa bagai diantaranya:
a.       Aspek struktural
Ada tiga elemen utama dalam struktur internal keluarga yang saling kait mengkait yaitu:
*      Status sosial
Beradasarkan status soslal, diukur dari tiga struktur utama yaitu bapak atau suami, ibu atau isteri dan anak-anak. Atau bisa diaktakana ayah sebagai pencari nafkah, ibu rumah tangga, anak balita, anak sekolah, remaja, dan lain-lain.
*      Fungsi sosial
Fungsi sosial ini menggambarkan perannya masing-masing individu menurut status sosialnya masing-masing. Parsons dan Bales (1955) dan Rice dan Tucker (1986) membagi dua peran orangtua dalam keluarga, yaitu peran instrumental yang diharapkan dilakukan oleh suami atau bapak yaitu berperan sebgai pencari nafkah untuk kelangsungan hidup seluruh anggota keluarga, dan peran emosional atau ekspresif yang biasanya dipegang oleh figur istrt atau ibu sebagai peran pemeberi cinta,kelembutan, dan kasih sayang.
Tujuan dari peran ini agar terciptanya suasana keluarga yang harmonis, serta untuk mengantisipasi ketika akan terjadinya problem dalam sebuah keluarga atau luar keluarga.
*      Norma sosial
Norma ini adalah peraturan yang menggambarkan bagaimana sebaiknya seseorang bertingkah laku dalam kehidupan sosialnya atau bisa dikatakan standar dalam tingkahalku dalam menjalankan tugas-tugas, pencapaian tujuan, integrasi dan solidaritas, serta pola kesinambungan atau pemeliharaan keluarga.
b.      Aspek Fungsional
Arti fungsi di sini menggambarkan bagaimana sebuah sistem atau subsistem dalam institusi masyarakat dapat saling berhubungan dan dapat menjadi sebuah kesatuan solid. Levy mengatakan jika dalam institusi keluarga tidak memiliki pembagian tugas yang jelas pada masing-masing individu maka fungsi keluarga akan terganggu yang akan mempengaruhi sistem yang lebih besar lagi. Dari situ levi memberikan gambaran struktur yang harus dipenuhi oleh institusi keluarga:
*      Diferensiasi peran = Seorng ayah adalah lebih kuat dripada anak lelakinya (karena juga lebih muda), shingga ayah akan dibrikan peran sebagai pmimpin dalam kegiatan instrumental.
*      Alokasi solidaritas = Cinta/kpuasan mnggambarkn hubungan antar anggota
*      Alokasi ekonomi.
*      Alokasi politik.
*      Alokasi integrasi dan ekspresi = Distribusi teknik atau cara untuk sosialisasi, internalisasi, dan pelestarian nilai-ililai dan perilaku yang memenuhi tuntutan norma yang berilaku untuk setiap anggota keluarga.
Dari pemaparan diatas dapat disimpulkan bahwa dalam sebuah struktur keluarga perlu adanya kerjasama antara suami dan istri begitupun dengan anak dalam menjalankan struktur fungsional dalam institusi keluarga, sehingga yang nantinya akan mudah dalam memecahkan konflik yang silih berdatangan.
Gronseth membuktikan penelitiannya (dalam Supnyantini, 2002). Meneliti 16  pasang  suami-isteri  yang kedua-duanya bekerja saram dalam  mengambil bagian dalam mengasuh anak. Disini kaum ayah merasa lebih baik dan terbuka dengan anak-­anaknya, sehingga anak yang diasuhnya tumbuh dengan kemampuan diri yang lebih tinggi serta keyakinan diri yang  lebih  besar, sehingga anaknya cenderung  lebih  matang dan dapat bergaul,  serta  mampu  menghadapi  berbagai  masalah.  Hal ini  berkaitan erat dengan rangsangan-rangsangan yang diberikan ayah dalam membantu perkembangan kognitif anak. (Herien Puspitawati. 2009, hal 27).

F.     Teori Sistem Keluarga
a.      Keluarga sebagai sebuah sistem
Herein puspitawati (2009) memberikan gambaran bahwa pendekatan keluarga sebagai sebuah sistem didasari oleh beberapa asumsi dasar berikut:
*      Setiap keluarga adalah unik. baik karena keragamannya karakteristik personal, maupun keanekaragaman budaya dan ideologi.
*      Keluarga adalah suatu  sislem interaksi  yang mana tiap  komponennya memiliki batasan yang selalu berubah dan derajat ketahanan untuk berubah yang bervariasi.
*      Setiap anggota keluarga memiliki variasi fungsi maupun individual, jika setiap anggotanya tumbuh dan berkembang.
*      Keluarga melalui suatu  proses perubahan yang,  menghasilkan tekanan terhadap seluruh anggotanya.

b.      Karakteristik Dari Sistem Keluarga
Dalam sebuah institusi keluarga tentunya mempunyai karakteistik dan manajemen masing-masing dalam menjalankan kehidupan keluarganya. Dalam memanajeman institusi keluarga biasanya tergantung pada latar belakang masing-masing keluarga. Herien Puspitawati. (2009) menjelaskan bahwa perlunya memahami karakteristik masing-masing dengan melihat aspek-aspek dalam keluarga sebagai sebuah sistem:
*      Batasan Ekternal
*      Batasan Internal
*      Peran organisasi
*      Peraturan keluarga
*      Distribusi kekuatan
*      Komunikasi

c.       Siklus Hidup Keluarga
*      siklus hidup yang harus dilalui setiap institusi keluarga adalah sebagai berikut
*      Tahap untuk berkomitmen
*      Tahap mengembangkan peran baru sebagai orang tua
*      Tahap menerima kepribadian baru
*      Tahap memperkenalkan anak kepada institusi di luar keluarga
*      Tahap menerima kedewasaan
*      Tahap mencoba kebebasan
*      Tahap persiapan untuk melepas anak
*      Tahap melepas anak
*      Tahap usia tua  (Herien Puspitawati. 2009, hal 36)




BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Dapat disimpulkan bahwa struktur fungsional adalah pendekatan teori sosiologi yang diterapkan dalam institusi keluarga. Keluarga sebagai sebuah institusi dalam masyarakat yang mempunyai prinsip-prinsip serupa yang terdapat dalam kehidupan sosial masyarakat. Pendekatan ini mempunyai warna yang jelas, yaitu mengakui adanya segala keragaman dalam kehidupan sosial. Dan keragaman ini merupakan sumber utama dari adanya struktur dalam masyarakat.
Struktural fungsional dalam institusi keluarga antara suami dan istri mempunyia peranan masing-masing, serta mengakui adanya keragaman dalam budaya.
Dalam makalah serta tulisan ini masih jauh dari sempurna, maka dari itu saya harapkan bagi pembaca keritik atau sarannya yang membangun dalam penyusunan makalah serta tulisan ini supaya kedepannya bisa menajadi lebih baik dan bisa dijadikan sebagai awal dari pembelajaran kesuksesan dimasa yang akan mendatang nanti amin.





DAFTAR PUSTAKA
f. O'dea, Thomas. (1985). Soiologi Agama. Yogyakarta: CV. Rajawali.
Khairuddin. (1985). Sosiologi Keluarga. Yogyakarta: Nurcahaya.
Lestari, Sri. (2012). Psikologi Keluarga. Yogyakarta: Kencana Prenada Media Group.
Puspitawati, Herien. (2009). Bahan Ajar Ke-3 M.K. Pengantar Ilmu Keluarga (Ikk 211). Bogor: Instut Pertanian Bogor.
Wiliam J.Goode. (1995). Sosiologi keluarga. Jakarta: Bumi Aksara, Edisi Pertama.

KUTIPAN DARI INTERNET
http://id.wikipedia.orgwikiTalcott_Parsons. Diakses pada 07 juni 2013.